Rabu, 16 November 2011

Tips Menulis: Kekuatan Sebuah Judul

Novel Jean Sofia, judulnya diubah oleh penerbit. 
Sebenarnya, saya sendiri juga tidak pandai membuat judul. Lebih seringnya, saya baru mendapatkan judul kalau naskah sudah selesai. Ada yang judulnya saya dapatkan di awal, lah kok naskahnya malah tidak selesai-selesai. Sepenting apakah  judul dalam membuat naskah kita lebih menarik?


Judul adalah kalimat pertama yang akan dilihat oleh penerbit dan pembaca.  Judul harus mencerminkan isi naskah. Meskipun tidak banyak prosentasenya, setidaknya salah satu factor seseorang membeli buku kita adalah karena judulnya yang menarik. Pembuatan judul juga tidak sembarangan. Judul buku fiksi (cerpen, novel, dsb) tentu berbeda dengan judul buku nonfiksi.

Untuk mempermudah pembuatan judul, mari kita ikuti saja contoh-contoh judul buku yang sudah ada di pasaran.
Novel ini tak mengalami perubahan judul
  1. Judul puitis: ini biasanya digunakan untuk novel-novel romantis, sesuai dengan isi novelnya. Kita bisa ambil contoh novel-novel Mira W. Diantaranya: Cinta Sepanjang Amazon, Merpati Tak Pernah Ingkar Janji, Matahari di Batas Cakrawala. Ada juga judul-judul novel roman yang menggunakan bahasa Inggris, tetapi tentunya yang mencerminkan romantisme, semisal novel  Coming Home, Here After, True LoveEndless Love, dsb.
  2. Judul menggunakan nama tokoh: Beberapa tahun lalu, booming judul sinetron yang hanya menggunakan nama tokoh utamanya, misalnya: Adinda, Intan, Khadijah, dsb. Novel saya sendiri, meskipun awalnya tidak, akhirnya diberikan judul dengan hanya menggunakan nama tokohnya, Jean Sofia.
  3. Judul untuk naskah humor, biasanya menggunakan kalimat-kalimat yang nyeleneh dan tidak baku, semisal, Gokil Mom, Emak Gokil, Mommy Katrok, Anak Kos Dodok, Sekretaris Dodol Mencari Cinta, dsb. Jika naskah humor itu menggunakan judul yang romantic, tentu tidak nyambung dengan isi naskahnya. Dan segmentasi pembaca yang dituju pun tidak sampai.
  4. Judul untuk naskah misteri, menggunakan kalimat yang seram dan misterius, misalnya, Toilet 107, Hantu Kereta Manggarai, dsb (nyebutin judulnya aja udah merinding niih).
  5. Untuk novel sastra, judulnya serius, semisal, Ronggeng Dukuh Paruh, Perempuan Berkalung Surban, Robohnya Surau Kami, dsb.
  6. Untuk naskah thriller, detektif, sejarah, chicklit, teenlit, dan sebagainya, coba cari contohnya di google, yaa….       

Judul untuk naskah nonfiksi, sebagai contoh: Panduan Kehamilan, Buku Pintar Bayi, Eksiklopedia Calon IbuSerba-Serbi Diet Sehat, dan sebagainya.

Ganpangnya, kalau mentok di judul (bingung menentukan judul naskah), jalan-jalan saja ke toko buku. Lihat-lihat judul-judul buku sesuai segmentasi dan genre naskahnya (ini penting!). Jangan sampai judul naskah kita tidak sesuai dengan isinya. Pada akhirnya, editor dan penerbit juga ikut campur dalam menentukan judul. Misalnya, kita sudah memberi judul begini, ternyata editor dan penerbit menganggapnya tidak menjual. Lalu, mereka mengganti judul naskah kita. Apakah kita boleh protes? Kalau kita sudah menandatangani kontrak perjanjian penerbitan, DENGAN SANGAT TERPAKSA, kita TIDAK BOLEH PROTES. Sebab, di dalam SPP ada poin perjanjian, bahwa penerbit berhak mengubah judul naskah kita, hehehe…. 
-----------------------------------------------------------
Nah, sekarang bagaimana cara menggambarkan setting dalam novelmu? Klik di sini ya....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....