Rabu, 11 Januari 2012

Renungan: Ketika Pernikahan "merampas" Hidupku

Setelah baca novel Pavillion of Women, karangan Pearl S., Buck, aku jadi tersadarkan sesuatu yang selama ini membebaniku. Ceritanya tentang seorang wanita Cina bernama Madame Wu yang pada ulangtahun ke-40, memutuskan untuk berhenti menjadi istri sepenuhnya bagi suaminya. Dia mencarikan istri baru untuk suaminya, yang akan menggantikan tugas2nya sebagai istri. Madame Wu yang cerdas menginginkan sisa usianya untuk dirinya sendiri, membaca buku, mencari ilmu, dan memuaskan hal2 yang tidak didapatinya sewaktu muda dulu. Dipikirnya, sudah cukup membaktikan diri untuk suami dan anak2nya, sekarang saatnya untuk diri sendiri.

Waah...rupanya pemikiran Madame Wu hampir mirip denganku dan juga mungkin wanita2 lainnya di luar sana. Setelah menikah, memang banyak waktu yang tersita untuk orang lain. Mulanya, untuk suami. Tadinya, pagi2 habis solat subuh, aku bisa malas2an, baca buku, eh sekarang harus bikin sarapan untuk suami dan melakukan semua tugas rumah tangga.Lalu, setelah punya anak, nyaris aku gak punya waktu untuk diri sendiri. Boro2 menulis, membaca buku pun tak sempat. Suwer... aku jadi kangen masa lajangku yang bebas plus masa2 indah ketika berkarier dan punya uang sendiri.

Kembali lagi ke Madame Wu. Setelah dia membebaskan diri dari suaminya dan juga anak2nya, ternyata masalah datang bertubi2 yang mau tidak mau harus turun tangan menanganinya karena cuma dia yang mampu. Dia pun kembali berpikir apakah keputusan untuk mengasingkan diri itu benar? Lalu, dia bertemu dengan Andre, seorang rohaniawan yang menyadarkannya, Bahwa hidup kita sebenarnya untuk orang lain. Andre sendiri membaktikan dirinya untuk orang lain, mengangkat anak2 terlantar menjadi anaknya dan menghidupi mereka. Jadi, sampai kapan pun, MadameWu tidak bisa melepaskan diri dari tugasnya sebagai istri dan ibu, sebab itulah esensi dia sebagai seorang wanita. Intinya, Orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Subhanalllah... padahal Pearl S. Buck bukan muslim, tapi kalimatnya itu seperti bunyi salah satu hadis rasulullah.

Jadi, bagi para istri dan ibu, nikmatilah peran kita, sebab untuk itu kita ada. Jalanilah tugas kita dengan ikhlas dan jangan merasa kehilangan potensi kita.
(maaf ya, aku gak bisa panjang2 nulisnya, soalnya diganggu anak2 :))

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....