Rabu, 11 Januari 2012

Renungan: Ketika Roda Kehidupan Berada di Bawah

Kata seseorang, kehidupan ini ibarat sebuah roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Maka, ketika sedang berada di atas, bersyukurlah. Dan ketika sedang berada di bawah, bersabarlah. Jangan sesekali takabur dengan kenikmatan hidup yang tengah kita dapatkan. Seringkali, ujian berupa kenikmatan itu justru membuat seseorang lupa akan Tuhannya dan orang lain. Sedangkan, jika kita ditimpa kesusahan, kita justru lebih dekat dengan Tuhan dan orang lain (ceramah dari banyak ustaz).



Pagi-pagi, saya sudah mendapatkan cerita baru dari si Bibi. Katanya, aneh bin ajaib, mantan istri Pak Lurah dan Polisi, sudah dua hari belakangan terlihat bekerja sebagai PRT di komplek tempat tinggalku. Secara, dulunya wanita itu adalah wanita dari kalangan berada (istri Lurah) yang ke mana-mana naik mobil pribadi. Perawakannya pun bersih, seperti ibu-ibu yang terawat lainnya. Dan tentu saja aksesorisnya lengkap. Pakaian bagus dan perhiasan emas. Dulu, waktu masih menjadi istri Pak Lurah, sombongnya bukan main. Tidak mau jalan kaki dan tidak mau menyapa warga. Rumahnya pun mewah bak istana (untuk ukuran orang kampung). Jadi… alangkah anehnya kalau tiba-tiba orang-orang yang mengenalnya melihatnya jalan kaki di sekitar Komplek dan… diketahui menjadi PRT di salah satu rumah di Komplek!

Suaminya, si Pak Lurah itu, memang sudah meninggal. Lalu, ia menikah lagi dengan Polisi. Dari menjadi istri Pak Lurah lalu menjadi istri Polisi, tentu derajatnya masih sama tinggi bagi ukuran warga kampung. Tapi, mengapa sekarang dia harus menjadi PRT? Suaminya yang Lurah sudah meninggal dunia, dan dia menjadi istri muda Pak Polisi. Hmm… hm…. Bisa jadi itu sebabnya. Tapi, tetap saja menjadi tanda tanya. Yang semula dia dilayani oleh pembantu, kenapa sekarang jadi pembantu? Bahkan, si Bibi yang juga pembantu di rumah saya, menganggap pekerjaan itu tidak layak untuk seorang mantan istri Lurah dan bini muda seorang polisi. Terlebih wanita itu kurang pantas menjadi pembantu dengan kondisi fisiknya yang terawat dan cantik.

Apakah dia tidak mendapatkan harta warisan dari almarhum Pak Lurah? Kata si Bibi. “yah mungkin saja hanya dapat sedikit, wong Pak Lurah istrinya banyak. Dia kan juga punya anak yang harus diberi makan setiap hari.” Lalu, bagaimana dengan suami keduanya yang seorang Polisi? Apa tidak diberi nafkah? Kata si Bibi, “yah namanya juga bini muda. Mungkin dikasihnya sedikit sama Pak Polisi.”

Terlepas dari itu semua, cerita itu menjadi pembelajaran bagi saya, betapa hidup benar-benar seperti roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Dan perputarannya bisa jadi amat drastis. Seseorang yang tadinya pengamen jalanan, ikut Indonesian Idol, menang, menjadi penyanyi sukses dan… kaya raya! Sebaliknya, seseorang yang mulanya mempekerjakan seorang PRT di rumahnya, eh sekarang justru menjadi PRT!

Kata si Bibi, seandainya mantan Bu Lurah itu dulunya tidak takabur, tidak suka pamer kekayaaan yang sifatnya sementara, dan selalu ramah kepada warganya, tentu warga tidak akan memandangnya dengan perasaan “senang” ketika tiba-tiba hidupnya jatuh. Bahkan mungkin akan merasa kasihan dan membantunya. Yah, kadang-kadang jengkel juga melihat orang yang suka pamer kekayaan, seperti di Gayus. Bepergian tamasya ke luar negeri saat masih menjadi narapidana, mengeluarkan ratusan juta seakan-akan dia sendiri yang mencetak uangnya. Tetapi, ingatlah bahwa Allah tidak tidur. Allah benci dengan orang-orang yang menyombongkan diri dan takabur. Semua harta adalah titipan-Nya semata. Allah punya berbagai cara untuk mengambilnya kembali, ketika yang dititipkan harta tidak dapat lagi menjaga amanah-Nya dengan baik. Wallahu ‘alam bis showab…..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....