Kamis, 14 Juni 2012

MEMPERSIAPKAN MENTAL PENULIS DALAM MENGHADAPI PENGGEMAR

Penggemar? Ih, kayak artis saja. Eh, tapi memang gak bisa dihindari ketika kita sudah menjadi penulis yang punya nama, ada penggemar yang menempatkan kita bak artis. LIhat saja sekarang, banyak penulis yang sudah bersikap bak artis. Gara-gara siapa? Ya, gara-gara penggemarnya juga yang menempatkan mereka bak artis. Misalnya, berebut minta tanda tangan dan foto bareng penulis. Padahal, dulu, penulis adalah sosok yang introvert, cenderung tertutup. Cukup karyanya saja yang terpublikasikan, penulisnya hampir tak diketahui bagaimana sosoknya. Novel zaman dulu, tidak banyak yang memberikan halaman untuk biodata dan foto penulis. Beberapa penulis memakai nama pena yang berbeda-beda, karena baginya tak masalah dirinya tak dikenal, yang penting kan karyanya.



Sekarang? Penulis tidak sekadar dikenal karyanya. Bahkan, penulis diharapkan bisa “menjual dirinya,” agar dengan begitu, karyanya bisa laku. Penulis harus memperkenalkan dirinya ke public, mengambil simpati banyak orang, harus aktif di jejaring sosial dan melayani ribuan penggemar. Bahkan, yang lebih narsis adalah, foto penulis dipajang gede-gede di sampul bukunya, hehehehe….. Kondisi ini bak buah simalakama. Manakala ada sedikit salah nyetatus atau komen, penggemar langsung sensitive dan seketika membenci si penulis. Hadeeeuuh… repot, euuuy…..

Pagi ini, saya juga baru saja mengalami kejadian yang bikin pikiran gak enak. Bayangkan saja. Tiba-tiba ada seseorang yang menulis di wall saya, mengkritik sikap saya yang tidak ramah terhadap dirinya. Dia bilang, saya pernah berkata tidak ramah kepadanya. Eeh, kalau yang ngomong begitu adalah Mba Anik, Yusi, Mba Eni, dan lain-lain, yang sering berinteraksi dengan saya, mungkin saya bisa langsung “ngeh” ya salahnya di mana. Lah ini, saya lupa siapa dia. Kapan yah pernah “ngomong” sama dia? Namanya saja saya lupa blas. Dia cerita kalau dia pernah chatting sama saya. Oooh… jadi saya ngomongnya di chat. Tapi, kapan? Rasanya sudah hampir setahun ini kolom chat-nya saya nonaktifkan. Habis reseh sih. Begitu saya buka fb, banyak deh tuh orang yang ngajakin chat. Masalahnya, kalau chat itu, kecenderungannya orang pengen cepat dijawab.

Padahal, saya buka fb itu sambil mengerjakan pekerjaan lainnya. Ya, ngetik tulisan, bikin susu anak-anak, nyebokin anak-anak, bikin sarapan, dll. Hebat, kan? Wkwkwkwk…. Jadi gak selalu fokus ke komputer. Makanya maaf saja bila Anda tidak bisa mendapatkan perhatian spesial dari saya, wong banyak yang saya perhatikan. Jadi bingung. Apalagi kalau ada yang kirim sms ke saya, belum tentu saya balas. FYI, saya isi pulsa hape hanya 10 ribu, lho. Dipakai deh sampai habis. Kalau belum ada hal penting yang membuat saya harus isi pulsa, ya saya biarkan saja kosong itu pulsa. Wong sama suami saja, kalau pas pulsa hape kosong, saya kirim pesan ke dia lewat twitter. Kenapa, sih? Namanya juga ibu rumah tangga bokek. Huahahahaha…..

Banyak pembaca buku saya yang minta nomor hape, saya bilang ke dia; kalau ada perlu, lewat imel atau fb saja ya. Apalagi kalau minta dijawab pertanyaannya seputar nulis buku. Panjang, bo, dijawab via sms. Bisa tekor sayah. Lah, dia aja gak mau nelepon saya karena pulsanya gak mau tekor, kan? Alasan dia, “saya jarang buka fb, mba… jarang buka imel…” Lho… mau jadi penulis kok gak mau repot, malah ngerepotin orang lain? Sering saya dapat sms malam-malam pas mau tidur. Bagi banyak penulis, malam hari itu waktunya “on.” Tapi, saya penulis yang “beda.” Hayaaah… saya sudah tidur jam 9 malam. Kecuali kalau sedang susah tidur, tapi itu amat jarang. Biasanya karena baru minum kopi kental aja, jadi susah tidur. Seringnya sih saya sudah tidur di atas jam segitu. Jadi mustahil saya jawab tuh sms-nya. Efeknya “cuek” ke penggemar memang gawat. Bisa dapat penilaian negatif dari mereka. Tapi siapa sih yang bisa menghindari prasangka buruk orang lain? Sekuat apa pun kita berusaha mengambil simpati orang lain, beberapa dari mereka akan tetap berprasangka buruk kepada kita. Jadi diri sendiri saja, deh.

Saya jadi ingat. Dulu, waktu saya masih pemula, saya juga pernah berprasangka buruk kepada beberapa penulis yang saya anggap senior. Saya pernah mengirim sms ke seorang penulis senior, dan tidak dibalas. Teman-teman saya juga begitu. Lalu kami membicarakan dia. “Dia mah sombong. Gak mau balas sms orang, klo menurut dia gak penting.” Ternyata setelah sekarang saya ada di posisinya, baru tahu ya repotnya balasin sms orang banyak, apalagi kalau isi pulsanya hanya 10 rb, wkwkwkw…..

Ada sih seorang penulis senior yang selalu menjawab sms penggemarnya. Tapi tetep saja kami, yang waktu itu masih yunior, mengecap dia sombong. Kenapa? Karena balas sms-nya hanya se-kata dua kata. Misalnya, “ya,” atau “ok.” Eh, setelah saya berhubungan dekat dengan penulis senior itu, nasib membawa saya menjadi karyawannya. Si bos cerita, kalau dia isi pulsa bisa sampai 500 rb sebulan, dan itu rata-rata hanya untuk menjawab pertanyaan penggemarnya. Wow, jadi pantas saja ya kalau jawabannya pendek-pendek, wong banyak yang kirim sms. Pegel kali tangannya jawabin sms kalau jawabannya mesti panjang-panjang.

Nah, teman-teman yang mau jadi penulis terkenal, siap-siap deh menghadapi penggemar yang ajib-ajib macam begitu. Isi pulsa modem dan telepon yang banyak, yah… heheheh….

5 komentar:

  1. wakakakakakakakaqka, aku tertawa untuk dua hal: pertama, akhirnya aku bisa komen di sini. kedua, karena cerita di postingan ini benar-benar mengena!
    gak kebayang kalau jadi kayak mbak leyla yg udah menghasilkan banyak buku, saya--yang memang sifatnya tertutup kayak botol kecap--juga sering punya 'masalah' dengan menjawab pesan.
    alasannya sama dg mbak leyla: pulsa. lebih buruknya lagi, saya bukan jenis orang yang berpulsa modem banyak. haduh, jadi gak enak sama teman2 yang sudah mengirim inbox.

    thanks ceritanya mbak ley

    BalasHapus
  2. makasiiih komennya, Aruuullll... gak nyangka dikomenin sama Arul. Dan yg harus kau waspadai adalah bila kau kelak punya istri cemburuan, padahal kau punya banyak penggemar wanita, hahahahahahah......

    BalasHapus
  3. waduh, aku enggak juga banyak pulsa, mbak. sekarang udah jarang buka chat, abis teman-teman lama pada nanya macem2, qiqiqi

    BalasHapus
  4. Senyum-senyum deh pas baca "foto penulis dipajang gede-gede di sampul bukunya, wkwkwkwkkkk...

    BalasHapus
  5. Wah ternyata begitu ya kisah di balik para penulis terkenal dlm menghadapi para fans-nya :D. Setidaknya dengan membaca kisah mbak saya gak akan lg bernegatif thinking sama penulis idola saya kalo saya dicuekin. Salam kenal mbak leyla :D

    BalasHapus

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....