Kamis, 25 Oktober 2012

Novelet: Hati Bidadari Bagian 2


WANITA BERNAMA SASTI




Wanita bernama Sasti itu duduk termenung di salah satu bangku taman rumahnya. Ia wanita yang masih cantik di usianya yang keempat puluh dua. Kerut-kerut di wajahnya belum terlihat karena perawatan rutin yang selalu dilakukannya sebulan sekali di salon dekat rumahnya. Suaminya, Suryo, adalah seorang dokter yang sukses. Ini terbukti dengan keberhasilan Suryo memberikan rumah mewah beserta isinya di bilangan Pondok Indah. Ia pun tidak diharuskan bekerja seperti kebanyakan wanita kota lainnya. Sejak menikah dua puluh tahun silam, yaitu saat usianya dua puluh dua tahun, ia sudah ditasbihkan menjadi ibu rumah tangga. Padahal pendidikannya lumayan tinggi, sarjana pendidikan dari sebuah institut keguruan di Yogyakarta. Suryolah yang memintanya untuk tidak bekerja. Cukuplah ia bekerja di rumah mendidik kedua anak mereka,  Satriyo dan Ratri. Sebagai perempuan Jawa yang masih memegang tradisi, tentu saja ia harus menerima perintah Suryo itu sebagai perlambang istri yang taat.
Sebenarnya, ia tidak mencintai Suryo saat mereka menikah dulu. Suryo pun demikian. Pernikahan mereka adalah hasil dari perjodohan. Ia sudah punya kekasih lain yang ia cintai setengah mati. Sayang, kekasihnya itu belum siap menikahinya sampai akhirnya Suryo datang melamar. Tak ada yang kurang dari Suryo. Ia hanya belum mencintai laki-laki itu. Toh, pada akhirnya ia jatuh cinta juga kepada Suryo dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada lelaki itu. Ia yakin, Suryo juga mencintainya. Itu terlihat dari sikap Suryo yang selalu sayang kepadanya. Buktinya, di tahun pertama pernikahannya, ia mengandung. Anak laki-laki yang tampan dan sehat, lahir sembilan bulan lewat sepuluh hari kemudian. Anak laki-laki itu sekarang sedang kuliah di luar negeri. Dia anak laki-laki yang pintar dan tampan. Lima tahun kemudian, lahir lagi dari rahimnya seorang anak perempuan yang cantik dan sehat. Anak itu sekarang berusia tujuh belas tahun dan masih sekolah di bangku SMA. Anak keduanya itu juga pintar dan berprestasi seperti kakaknya.
Sasti  mencintai Suryo, demikian juga sebaliknya. Tapi itu dulu. Sekarang, perasaannya sebagai wanita mengatakan bahwa cinta Suryo sudah berkurang. Entah karena apa. Sudah dua tahun ini Suryo jarang pulang. Dulu, meskipun tugasnya banyak di rumah sakit, ia bisa menyempatkan diri untuk pulang. Sekarang, bisa berhari-hari Suryo tidak pulang.  Kalaupun pulang, perhatian Suryo tak terfokus kepadanya. Suryo terlihat sering melamun. Entah memikirkan apa. Sasti pernah menanyakan hal itu kepada suaminya, tapi suaminya tak pernah mau menjawab. Sasti tak ingin merepotkan suaminya dengan pertanyaan-pertanyaannya itu. Tapi melihat sikap Suryo yang demikian, ia sering kesal juga. Tiba-tiba saja ia menyesali pernikahannya dengan Suryo. Ia pikir, pernikahan yang terpaksa itulah yang membuat kehangatan mereka tidak langgeng.
Cintanya pada kekasihnya dulu sangatlah kuat. Maklum, hubungan mereka sudah berjalan dari masih duduk di bangku SMA. Namun, bukan berarti mereka berhubungan kelewat batas. Rasa takut kepada agama dan adat membuat mereka berhubungan masih dalam batas wajar. Sasti dan Bagas adalah sepasang kekasih yang tidak bisa dipisahkah. Mereka bahkan sudah berangan-angan untuk menikah setelah lulus kuliah. Sayang, rencana tinggal rencana. Orang tua Sasti keburu menjodohkan gadis itu dengan seorang calon dokter yang kuliah di Jakarta. Seorang calon dokter bernama Suryo. Orang tua Sasti bukan tidak tahu anaknya sudah memiliki kekasih. Justru karena itulah ia segera menikahkan anaknya dengan Suryo. Sasti sempat menolak dan melakukan mogok makan. Ia bahkan sempat merencanakan untuk melarikan diri bersama Bagas. Tapi itu semua tak berhasil mematahkan semangat orang tuanya untuk menjodohkannya dengan Suryo.
Dingin. Sepi. Itulah rasanya saat pertama kali menikah dengan Suryo. Asing. Mereka belum terlalu mengenal satu sama lain. Malam pernikahan hanya dilewati dengan  kebisuan. Mereka sama sekali tak berbicara sampai pagi. Rupanya Suryo bukan tipe lelaki yang supel. Ia pendiam. Baru di hari ketujuhlah mereka saling berbicara. Dan di hari ketiga puluh mereka berhubungan suami istri. Saat itulah Sasti merasa bahwa memang Suryolah lelaki yang ditakdirkan Tuhan untuk menemaninya di dunia ini. Belahan jiwanya. Entah apakah Suryo merasakan hal yang sama. Hanya saja ia merasa tak bisa lepas lagi dari Suryo. Ia bahkan melupakan begitu saja cinta yang pernah terjalin antara dirinya dengan Bagas.
Namun, sekarang perasaan itu sudah berubah. Seperti ada yang hilang dari hubungan mereka. Sasti merasakan kedinginan, kesepian, dan keasingan yang sama seperti waktu pertama menikah dengan Suryo dulu. Ia seperti tak pernah mengenal Suryo sebelumnya. Hubungan mereka dilanda kebisuan. Sesekali Suryo pulang ke rumah, tapi tidak berbicara sama sekali. Mereka seperti tidak pernah menikah dan menyatu. Asing. Sasti yakin, ada sesuatu yang membuat hubungannya menjadi sehambar ini dengan Suryo. Dan ia yakin, sesuatu itu pastilah cinta yang lain. Cinta lain yang dimiliki suaminya. Entah pada siapa.
***
“Aku tak pernah jatuh cinta sebelumnya, Ry,” ucap Suryo, hari ini. Akhirnya, ia berhasil menemui Fairy dan mengajaknya bicara setelah berhari-hari gadis itu menghindar darinya.
“Tidak mungkin,” sahut Fairy, pelan.
“Percayalah padaku, Ry. Aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya. Setelah aku bertemu denganmu, barulah aku tahu apa itu cinta.”
Fairy tersenyum sinis. Laki-laki. Mungkin ini yang dibilang Prita sebagai rayuan gombal. Ah! Kenapa ia masih saja mau mendengarkan rayuan ini? Kata-kata manis ini?
“Kalau tidak cinta, mana mungkin Bapak menikah dengan Bu Sasti? Mana mungkin kalian bisa punya dua anak? Mana mungkin, Pak?!” Fairy nyaris berteriak. Ia tertunduk. Ia tak mau menatap Suryo. Jangan sampai ia menatap Suryo. Tatapan mata Suryo akan membiusnya. Ia mendengar Suryo menghela napas.
“Waktu itu aku memang belum tahu apa itu cinta. Hari-hariku hanya diisi dengan belajar, belajar, dan belajar. Lalu saat usiaku dua puluh lima dan studiku tinggal setahun lagi, orang tuaku mengajakku ke Yogya untuk bertemu dengan Sasti. Mereka mengenalkanku dengan Sasti dan ujung-ujungnya menjodohkanku dengannya. Aku menerima perjodohan itu karena aku belum mengenal cinta, Ry. Aku tidak tahu apa itu cinta. Aku belum pernah jatuh cinta pada perempuan mana pun. Aku menikah hanya untuk menuruti keinginan orang tua. Menikah dengan Raden Roro Sasti, seorang gadis berdarah biru. Dan meskipun aku sudah menikah dengannya, aku masih belum merasakan perasaan itu. Cinta. Aku baru merasakannya setelah bertemu denganmu, Ry.”
Fairy tertunduk. Kata-kata Suryo benar-benar racun untuknya. Ia sendiri tak paham dengan cinta, seperti ia juga tak paham dengan perkataan Suryo barusan. Ia masih tak paham.
“Aku ingin menggapai cinta itu, Ry. Aku yakin, kamulah belahan jiwaku yang selama ini kutunggu-tunggu. Akhirnya kudapatkan juga belahan jiwa itu….”
“Tidak, Pak! Bapak belum mendapatkan saya!” potong Fairy, tiba-tiba.
“Iya, Ry. Iya. Aku tahu. Tapi kau masih memikirkan pinanganku, kan?”
“Pinangan apa?”
“Jangan pura-pura tidak tahu, Ry. Kau masih memikirkannya, kan? Kau masih mempertimbangkannya, kan?”
“Keputusan saya sudah jelas, Pak! Saya tidak mau menikah dengan Bapak. Sebaiknya mulai sekarang kita tidak lagi berhubungan! Jangan bicara dengan saya lagi, Pak!” Fairy berlalu dari hadapan Suryo yang termangu.
***
Ratri membuka pintu rumahnya. Sepi. Seperti biasa. Paling hanya ada Ibu dan dua orang pelayan di rumah. Ratri langsung berjalan menuju  taman belakang rumah dengan masih mengenakan seragam putih abu-abunya. Ia tahu, ibunya pasti menghabiskan waktunya di tempat itu. Itulah satu-satunya tempat yang menyenangkan untuk merenung.
“Assalamualaikum…! Ratri sudah pulang, Bu!” Ratri memeluk ibunya dari belakang.
“Waalaikumsalam. Kok baru pulang, to?” tanya Sasti, lembut.
Ratri mencium kedua pipi ibunya. “Ibu pasti kesepian, ya? Maafin Ratri, Bu. Tadi ada tugas kelompok. Sebenarnya Ratri juga malas.”
“Ya, ndak pa-pa kalau untuk kegiatan yang bermanfaat.”
“Tapi Ibu pasti kesepian, kan?”
“Iyalah. Ibu bingung mau melakukan apa. Anak-anak sudah besar dan sudah punya kegiatan sendiri-sendiri. Apalagi Satriyo hanya sesekali saja pulang ke sini.”
“Itu pun nggak untuk menemui kita, Bu. Pasti Kak Angel yang pertama kali ditemuinya.”
“Sudah-sudah. Kamu ganti baju dulu sana. Nanti kita makan bersama-sama.”
“Lho, memangnya Ibu belum makan?”
“Belum. Ibu sengaja nunggu kamu.”
“Ibu gimana, sih? Aku nggak perlu ditungguin!”
“Sudah! Ayo!”
“Bu, memangnya Kak Fairy nggak pernah datang ke sini lagi?” tanya Ratri, teringat pada seorang perawat yang dulu sering berkunjung ke rumahnya kalau sedang tidak ada tugas.
“Entahlah. Fairy ndak pernah nelepon-nelepon lagi. Mungkin sekarang dia sudah sibuk, seperti bapakmu.”
“Wah…! Padahal kalau Kak Ry datang ke sini, rumah akan ramai ya, Bu! Kak Ry itu lucu. Awalnya kupikir dia itu lembut dan pendiam. Ternyata bisa ngomong dan melucu juga dia!”
“Iya. Ibu juga suka sekali kepadanya.” Sasti tersenyum mengingat Fairy.
Ratri masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian. Tak lama ia ke luar dengan busana rumahnya, kaus pendek dan celana panjang katun. “Hari ini Bapak pulang nggak, Bu?”
“Memangnya kenapa?”
“Cuma mau bilang kalau Kepala Sekolah ngucapin terima kasih atas uang yang dikasih Bapak buat bangun gedung sekolah itu.”
“Alah… cuma begitu saja ndak akan membuat bapakmu pulang, Tri.” Sasti mencibir.
Ratri menatap ibunya, prihatin. Bapak memang jarang pulang. Kasihan Ibu.
“Ternyata jadi dokter itu berat ya, Bu. Sampai lupa pulang begitu.”
“Entahlah. Ibu belum pernah jadi dokter.”
***

 Sebelumnya: Hati Bidadari Bagian 1

1 komentar:

  1. Selamat malam....

    Blogwalking ya keluarga bloggerku...

    Main-main ke blog baruku...

    www.plumblush.blogspot.com

    terutama teman-teman yang suka dandan, yang mau belajar dandan.. minggu depan mau bagi-bagi alat makeup gratis nih....

    ditunggu kehadirannya di rumah baruku....

    -N-

    BalasHapus

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....